Filsafat Politik

Posted: June 1, 2011 in Uncategorized

Asal-Muasal Kesadaran Nasional

Sebelum tahun 1500, sedikit banyaknya buku telah di cetak 20.000.000 yang menandai titik tolak zaman reproduksi mekanisnya Benjamin. Jika pengetahuan manuskrip merupakan wangsit rahasia yang sulit didapat, pengetahuan tercetak dihidupi oleh kemampuannya untuk direproduksi dan disebarkan tanpa henti. Sepert yang diyakini oleh Febvre dan Martin bahwa berkemungkinan 200.000.000 jilid buku telah ditulisnya pada 1600 tahun yang lalu. Dan diantara tahun 1500 sampai 1550 juga termsuk periode kemakmuran hebat di Eropa dikarenakan awal dari pembentukan awal usaha kapitalistis penerbitan buku yang terdrong nafsu pemasaran. Yang dapat menciptakan perusahaan-perusahaan penerbitan internasional. Dimana usaha penerbitan menjadi industri besar dibawah kendali para kapasitas kaya. Buku demi bukupun dicetak dan dijual kepasar. Hingga fakta menentukan bahwa bahasa merupakan bahasa orang-orang bilingual. Sangatlah relatif orang yang dilahirkan untuk berbahasa latin. Pembumian bahasa secara revolusioner sebagai sabetan kapitalisme awal rancak akibat tiga faktor. Faktor pertama adalah perubahan karakter bahasa dan   bahasa-bahasa ibu administratif mendahului kebangkitan cetakan dan keagamaan pada abad ke 16 yang dianggap sebagai faktor yang mempengaruhi pengikisan komunitas yang terbayang sakral. Bahasa latin juga mampu dikalahkan bahasa Perancis Norman hanya dalam kurun waktu 1200 atau 1350 tahun. Dan pada tahun 1539 bahasa Perancis diresmikan oleh Francois ketika ia mengeluarkan maklumat Villers-Cotterets. Dan pada abad 18 bahasa Perancis dan Jerman juga menjadi bahasa resmi dalam lingkungan istana.

Kendati kita harus selalu ingat akan gagasan fatalitas, dalam artian kondisi kebhinekaan linguistik umum yang tak bisa diganggu gugat. Yang hakiki adalah ketimbal-balikan antara fatalitas, teknologi, dan kapitalisme dalam ragam bahasa. Yaitu bahasa yang bagi pemakainya merupakan lekuk-liku kehidupan mereka sangat besar. Kapitalisme menciptakan bahasa kekuasaan yang jenisnya berlainan dengan bahasa-bahasa yang dipakai dalam administratif sebelumnya.

Para Perintis Kreol

Negara baru yang baru lahir pada abad ke 18 dan awal abad ke 19 menghadirkan daya tarik yang tak lumrah karena mustahil menjelaskan kehadiran mereka dengan berpijak pada dua faktor yang mungkin dari nasionalisme Eropa mampu ditarik. Sehingga mendominasikan pemikiran Eropa Picik tentang kelahiran nasionalisme dimuka bumi.

Kreol adalah orang yang mewariskan darah murni Eropa dari para moyangnya. Namun ia sendiri dilahirkan di benua Amerika. Sehingga sangatlah cukup adil bila dikatakan bahwa bahasa tidak pernah menjadi persoalan dalam perjuangan-perjuangan pembebasan nasional mereka.

 

Gelombang Terakhir

Negara-negaru baru pasca perang dunia II mempunya watak tersendiri. Kebijakan-kebijakan pembangunan bangsa yang ditelurkan oleh negara-negara baru memuat unsur antusiasme nasional kerakyatan yang asli dengan pemantapan ideologi nasionals yang sistematis. Dimana berwatak Machiavelis lewat media massa, sistem pendidikan, peraturan-peraturan pemerintahan dll.

Pada abad ke 18 unit administratif imperial mulai mendapatkan makna nasional, sebagian unit merupakan kurungan pendakian para fungsionaris kreol. Begitu juga dengan abad 20. Imperium Eropa zaman mutakhir mempunyai sisi praktis selain sisi ideologisnya. Pada tahun 1913, Rezim kolonial Belanda di Batavia mengikuti pertunjukan di Den Haag. Dimana ia mensponsi perayaan massal untuk memperingati 100 tahun pembebasan nasional bangsa Belanda dari Perancis. Dimana Ki Hajar Dewantara menuliskan artikelnya dalam bahasa Belanda yang berjudul “Als ik eens Nederlander was” yang artinya Andai saya menjadi orang Belanda. Tulisan ini pertama kali dimuat dalam De Expres tanggal 13 Juli 1913. Namun langsung diterjemahkan kedalam bahasa Indonesia dan dimuat kedalam koran Pribumi. Ironisnya, tentu semua sejarah ditulis dari suatu kesadaran historiografis yang pada peralihan abad diseluruh Wilayah Eropa menjadi terumusan secara nasional.

Orang Belanda seharusnya berada di tempat pribumi mereka disebabkan tempat lahir mereka sendiri. Namun selain superioritas dan juga mempunyai status bukan berasal dari tanah jajahan, mereka mampu memberi mereka sendiri dengan bahasa yang mereka akrabi. Pada masa kejayaan Ecole Normale William Ponty di Dakar, berdatanganlah murid-murid cerdas. Dimana konsep paradoksal negritude intisari keafrikaan yang hanya bisa dinyatakan dalam bahasa Perancis. Jadi jangan heran jika puncah peziarahan para murid terjadi di Dakar. Secara umum kebijakan yang diterapkan para penguasa mempunyai dua tujuan dasar yang hendak dicapai. Yang pertama kubijakan yang bertujuan untuk memotong ikatan politikus dan kultural yang ada antara rakyat jajahan dengan jagat diluar Indocina. Tujuan yang kedua adalah kebijakan pendidikan Perancis di Indocina yang ingin menghasilkan sejumlah orang pribumi yang fasih berbicara bahasa.

Liku-liku sistem pendidikan kolonial tak perlu terlampau banyak menyita waktu. Bagi para pendaki makna titik menariknya mereka dari segala penjuru itu mustilah Indocina dimana sama halnya dengan mahasiswa-mahasiswa yang poliglot dan polietnis di Batavia. Indocina ini kendati sangatlah nyata namun sangatlah bisa dilestarikan dan bahkan makin mendalam ke Indonesiaan.

Pertama, adanya perubahan yang cukup berarti dalam  alur pendidikan kolonial yang dijalankan di Indocina Timur sejak sekitar tahun 1917. Kedua, pada tahun 1935 College Sisowath di Phnom pen dirombak menjadi sebuah lycee negri penuh.  Ketiga, ada fakta bahwa antara perziarahan administratif/pemerintahan di Indocina tidak terdapat isomorfisme.

Tak gampang membayangkan Indocina bagi para pejabat Khmer dan Lao, kendati tidak ada pengekangan legal atau formal atas mereka untuk meniti karier kepegawaian yang sepenuhnya mengindocin. Bahkan kaum muda yang ambisius dari komunitas Khmer Hilir yang jumlah penduduknya tercatat 326.000 (tahun 1937) di Indocina Timur (mungkin mewakili sekitar 10% dari seluruh penduduk berbahasa Khmer). Dimana pada akhirnya muncullah para murid yang berbahasa Khamr yang dikenal dengan sebagai para nasionalis pertama kamboja. Huy Kanthoul adalah seorang perdana menteri demokrat antara tahun 1951-1952 dimana pada akhirnya ia bergabung dengan staf lycee Sisowath.

Sebagai tambahan, sejak dasawarsa 1920-an bahwa Indonesia telah mengada dengan penuh kesadran diri. Riwayatnya sangat berharga untuk diketahui. Dimana pada akhirnya kasus Indonesia sangatlah memikat. Tidak ada satupun petunjuk yang bisa menunjang argumen bahwa nasionalisme Ghana tak senyata nasionalisme Indonesia lantaran bahasa nasional Ghana adalah basaha Inggris. Bagaimanapun, bahasa imperium masilah bahsa ibu daerah dan merupakan bahsa dari daerah partikular/tertentu. Adapun yang menciptakan nasionalisme adalah bahasa cetak dan bukan bahasa ibu daerah.

Tahun 1891, ditengah pusaran peringatan baru yang menandai ulang tahun ke 600 Konfederasi Schwyz, Obwalden, serta Nidwalden, dimana pada tahun 1291 mereka memutuskan sebagai tahun berdirinya swiss. Sebagian jawabannya tercantum dimasa muda egara Swiss, yang sebagaimana telah diamati oleh Hughes.

Keterbelakangan negeri swiss yang berpadu dengan permukaan bumi seolah-olah menagkis para pendatang, serta miskinnya sumberdayasumberdaya yang dapat digali. Penduduk negri ini merupakan kaum petani yang tak bergerak kemana-mana. Keterbelakangan Swiss yang sangat dusun bukan semata dikisaran ekonomi, tapi juga politis serta kultural. Area yang tak berubah sedikitpun antara tahun  1515 dengan 1803, serta para penghuninya berbicara dalam bahasa logat Jerman salah satu diantara mereka.

Jika ditilik sampai tahun 1848, nyaris dua generasi setelah Swiss mengada pertentangan agama-agama kuno yang lebih mencolok pada politis dari pada linguistik. Cukuplah sangat menarik, dimana agama-agama katolik tak bisa diganggu gugat monopolinya dalam daerah tertentu.

Bagaimanapun, tahun 1910 bahasa ibu hampir 73% penduduk Swiss adalah bahasa Jerman, 22% Perancis, 4% Italia, dan 1% Romansch. Namun Swiss juga berbatasan dengan dua kekuatan adidaya Eropa pada saat itu, Yakni Perancis dan Italia. Sehingga Jermanisasi tentu bakal membuahkan resiko-resiko politis yang jelas. Maka kesetaraan legal antara Jerman, Perancia dan Italia merupakan satu sisi dari mata uang kenetralan Swiss.

Jika Hughes dengan tpat melacak tahun kelahirannya, maka nasionalisme Swiss hanya sedasawarsa lebih tua dibandingkan nasionalisme Indonesia. Dengan kata lain nasionalis Swiss lahir dalam periode sejarah dunia tertentu. Tatkala bangsa menjadi norma internasional, ketika terbuka kemungkinan untuk menciplak pola kebangsaan dalam cara jauh yang lebih rumit ketimbang sebelumnya. Jika struktur Swiss yang konservatif secara politis dan keterbelakang secara sosial ekonomis telah menunda kebangkitan nasionalisme maka fakta bahwa lembaga-lembaga politis pra-modernnya adalah non-monarkis yamg telah membantu menangkal ekses-ekses nasionalisme resmi.

Sebagai kesimpulan, gelombang terakhir nasionalisme kebanyakan menerpa wilayah-wilayah jajahan di benua asia serta Afrika. Dimana pada awalnya merupakan reaksi terhadap imperialisme global gaya bau yang dimungkinkan oleh pencapaian-pencapaian kapitalisme industrial.

Seperti ujaran Karl Marx yang tak dapat ditiru: “Kebutuhan akan pasar yang terus-menerus mekar bagi produk-produknya mengejar borjuasi keseluruh muka bumi” tetapi kapitalismepun antara lain berkat penyebaran barang cetakan yang dilakukannya, telah membantu menciptakan nasionalisme-nasionalisme kerakyatan yang berlain-lainan telah mendepak prinsip-prinsip dinastik yang usianya telah lanjut.

Betapapun sebagai kaum pelajar bilingual, dan diatas segalanya sebagai kaum cendekia pertama abad ke 20, yang memiliki akses didalam maupun diluar kelas terhapat berbagai model bangsa, kebangsaan, serta nasionalisme yang disuling dari pengalaman-pengalaman bergolak dan kacau balau dalam sejarah Eropa dan Amerika yang usianya lebih dari seabad. Akhirnya tatkala kapitalisme semakin lama semakin kencang mentransformasi cara-cara komunikasi ragawi maupun intelek, kaum terpelajar ini menemukan cara-cara untuk melangkahi cetak-mencetak dalam usaha mereka mempropagandakan kominitas terbayang bukan sekedar kepada khalayak yang buta aksara, melainkan juga pada khalayak pembaca dalam bahasa-bahasa yang berbeda-beda.

Leave a Reply

Fill in your details below or click an icon to log in:

WordPress.com Logo

You are commenting using your WordPress.com account. Log Out / Change )

Twitter picture

You are commenting using your Twitter account. Log Out / Change )

Facebook photo

You are commenting using your Facebook account. Log Out / Change )

Google+ photo

You are commenting using your Google+ account. Log Out / Change )

Connecting to %s