KAPITALISME DEMOKRASI

Posted: June 18, 2011 in Uncategorized
  1. DUA KONSEPSI TENTANG DEMOKRASI

Tahun 1948, George Bernard Shaw mengusulkan untuk menghilangkan salah paham dan kekacauan tentang pengertian demokrasi. Dalam menyelesaikan persoalan ini, mereka mengumpulkan seluruh kaum terpelajar dan ahli pikir untukmenyelesaikan persoalan. Celakanya, persoalan terletak sangat dalam dan tidak adanya kesesuai tentang konsep demokrasi.

Seorang wakil Amerika Serikat, Inggris, atau Perancis sering berbicara tentang demokrasi namun demokrasi yang dimaksud seringkali tentang hal-hal yang berlawanan tentang apa yang ada dalam pikiran kaum komunis Rusia atau Tiongkok. Pada akhir perang dunia ke-2 ketika Amerika Serikat, Inggris, Perancis dan Uni Soviet menduduki Jerman sebagai salah satu dari tujuan mereka yang utama yaitu “demokratisasi” Jerman. Negara-negara barat beranggapan bahwa pembawa demokrasi ke Jerman berarti pemilihan umum, pers yang merdeka, kemerdekaan mengadakan perkumpulan politik, kebebasan beragama, berpikir dan berbicara, persamaan menurut hukum, hak untuk menentang pemerintah, hak untuk memilih pekerjaan sendiri, hak untuk membentuk serikat-serikat kerja bebas, hak untuk bergerak bebas dalam negeri sendiri, dan pergi keluar negri untuk sementara waktu, atau berpindah untuk selama-lamanya dan secara umum hak setiap oran untuk bebas mengembangkan kesanggupan pikiran dan moralnya. Dari segalanya, kebebasan dari ketakutan adalah sebagai soal pokok dalam konsep barat mengenai demokrasi. Aspek demokrasi telah ditulis dengan tepat yaitu:

“ Dalam suatu negara yang merdeka, ketukan pinti dipagi buta berarti datangnya tukang susu, dalam suatu negara totaliter, ketukan yang sama berarti datangnya polisi rahasia untuk mengambil seseorang dari rumah dan keluarganya untuk dipenjarakan, dibuang, atau dihukum mati dengan tidak diadili atau menurut proses yang sewajarnya”.

Konsepsi komunis mengenai demokratisasi Jerman berbeda dengan konsep demokrasi barat. Seperti yang dikatan oleh pujangga Soviet “Apakah politik ini atau politik itu dijalankan untuk kepentingan rakyat, untuk kepentingan mayoritas yang ada dan terbesar atau untuk kepentingan minoritasnya” (G. F. Aleksandrov, The pattern of Soviet Democracy, 1948).

Dalam pemilihan terakhir di Jerman Barat pada tahun 1953, hanya 22% suara diberikan untuk partai komunis. Menurut pandangan mereka, Jerman Barat adalah negara diktator karena kepentingan kepentingan rakyatnya tidak di tentukan oleh satu partai yang tau tentang apa yang paling baik bagi rakyat Jerman yaitu partai komunis. Kaum komunis menanamkan keharusan-keharusan demokrasi-kemerdekaan berbicara, pers, berkumpul, persamaan menurut hukum dan hak-hak dalam demokrasi pokok lainnya sebagai demokrasi formal. Jika dibandingkan dalam konsepsi komunis, demokrasi-demokrasi yang traditional mendapati arti baru. Uni Soviet memandang Jerman Timur sebagai suatu negara yang sungguh-sungguh demokrasi karena hak milik alat-alat produksi dan penyelenggaraan telah dioperkan kepada pemerintah.

  1. DEMOKRASI SEBAGAI SUATU CARA HIDUP

Konsep barat tentang demokrasi sebagai suatu cara hidup:

  1. Empirisisme rasional
  2. Titik berat pada orang
  3. Sifat instrumental dari negara
  4. Kesukarelaan
  5. Hukum di balik hukum
  6. Titik berat pada cara
  7. Perbincangan dan persetujuan dalam hubungan-hubungan manusia
  8. Persamaan pokok di antara semua umat manusia.
    1. Empirisisme rasional merupakan unsur tersendiri yang teramat penting dalam cara hidup bebas. Kepercayaannya kepada pertimbangan akal dan kemungkinan cara menggunakannya. Kaum pada golongan ini disebut dengan kaum dogmatis (orang-orang komunis dan fasis) dan mempunyai tujuan untuk memperkuat apa yang telah diketahuinya.
    2. Titik berat pada individu memisahkan demokrasi liberal dari sistem totaliter fasis maupun komunis. Dalam fasisme, titik berat adalah pada bangsa, negara, suku bangsa dan kerajaan. Dalam komunisme, titik berat adalah pada konsep mengenai kelas. Demokrasi liberal menitik beratkan pada individu sebagai pusat dari segala doktrin dan politik.

“negara adalah tuan dan individu sebagai pesuruhnya” (doktrin totaliter)

  1. Teori negara sebagai alat negara sebagai suatu mekanisme untuk digunakan bagi tujuan yang lebih tinggi dari alat itu sendiri. Pembangun politik barat menganggap negara sebagai suatu kesatuan organik dengan kehidupan dan tujuan-tujuan sendiri yang lebih tinggi dari tujuan-tujuan individu. Doktrin liberal klasik mengatakan bahwa masyarakat pada dasarnya dianggap cukup dengan dirinya sendiri, dan negara harus datang menolong hanya jika usaha-usaha sukarela masyarakat gagal.
  2. Kesukarelaan teori demokratis menganggap sukarela adalah sebagai darah kehidupan dari suatu masyarakat bebas. Hidup yang penuh dengan persaudaraan dapat dirasakan sedalam-dalamnya dalam perkumpulan-perkumpulan kecil yang sukarela.
  3. Hukum di balik hukum berasal dari pandangan federalis mengenai negara dan masyarakat dalam liberalisme klasik. Masyarakat dianggap sebagai kumpulan dari asosiasi-asosiasi sukarela yang berlainan dan negara dipandang sebagai suatu badan yang seharusnya sukarela disebabkan kekuasaannya berasal dari persetujuan orang-orang yang diperintah. Para pemikir liberal klasik di Inggris dan Amerika Serikat beranggapan bahwa hukum bukanlah berasal dihasil oleh negara, tetapi mendahuluinya.
  4. Titik berat pada cara hidup demokratis adalah berdasarkan keinsafan akan adanya tujuan yang tidak dapat dipisahkan dari cara mencapainya yang senantiasa menentukan bentuknya.
  5. Perbincangan dan persetujuan cara yang menjadi ciri bagi masyarakat demokratis dalam usahanya untuk menyelesaikan perbedaan-perbedaan pandangan dan kepentingan.
  6. Persamaan pokok di antara semua umat manusia merupakan pokok dari doktrin dan politk demokratis yang sering menimbulkan salah paham. Seorang demokrat tidak pernah mengatakan bahwa semua orang sama. Namun yang dikatakan adalah pada dasarnya mereka sama.
  7. SYARAT-SYARAT DEMOKRASI POLITIk

Demokrasi politik tidak sama dengan demokrasi sebagai suatu cara hidup, kecenderungan untuk menyamakannya bukanlah tidak sehat. Pemerintahan yang demokrasi mampu memelihara suhu politik yang memungkinkan kemerdekaan politik berkembang. Kemerdekaan politik dalam suatu masyarakat dapat diukur sebaik-baiknya dengan batas ketidak umuman yang dibolehkan dalam masyarakat tersebut. Pada tahun 1945, kaum pemilih di Inggris dihadapkan pada satu pilihan. Bukan pada sosialisme dan kapitalisme, tapi antara dua program yang tidak terlalu beda sifatnya. Meski kapitalisme dapat dihapuskan dengan cara yang paling demokratis sekalipun, kebutuhan akan lebih dari dari satu partai tetap ada. Meskipun kapitalisme tidak ada menurut pengertian modern, namun kaum komunis mengatakan bahwa dua partai adalah buah dari kapitalisme. Kepentingan-kepentingan yang bertentangan di antara kaum kapitalisme dan kaum pekerja harus diwakili dari partai-partai yang bertentangan. Di Uni Soviet, kapitalisme telah dihapuskan. Oleh sebab itu, tidak perlu adanya ladi partai yang bertentangan dengan partai komunis. Sehingga menimbulkan argumen-argumen kesalahan pokok. Dimana terdapat anggapan yang salah bahwa persoalan hak milik adalah satu-satunya urusan partai politik.

  1. DASAR-DASAR KEJIWAAN DEMOKRASI

Manusia telah hidup di atas planet ini selama dari seperempat juta tahun kurang lebih. Namun ide-ide tentang demokratis dan pakteknya baru saja diketahuinya. Secara politik, pribadi yang otoriter pada dasarnya adalah seorang dewasa yang tidak pernah sampai matang kedewasaannya. Orang yang telah matang kedewasaannya tidak memerlukan keamanan yang diberikan oleh suatu kekuatan luar, Ia mempunyai keamanan dalam dirinya sendiri. Begitu juga dengan sikap pribadi yang demokratis terhadap pemimpin yang berbeda dengan sikap pribadi otoriter. Pembentukan pribadi demokratis pertama-tama harus ditentukan dalam lingkungan keluarga.

Salah seorang ahli ilmu jiwa kanak-kanak Jerman, Kurt Lewin datang ke Amerika Serikat pada tahun 1932 menulis sebuah tulisan pada tahun 1936 tentang perbedaan sosial-psikologis bahwa “Bagi seseorang yang datang dari Jerman, tingkat kebebasan dan kemerdekaan anak-anak dan orang dewasa di AS sangat mengesankan”. Terutama kentara sekali tidak adanya sifat merendah dari anak-anak muda terhadap orang-orang dewasa atau dari mahasiswa terhadap guru. Kaum ini juga memperlakukan si anak lebih seperti sesamanya. Sebaliknya jika pada mereka terdapat pribadi yang demokratis karena pribadi ini senantiasa insaf akan kekurangan-kekurangannya sendiri dan kekurangan-kekurangan kelas sosial, partai atau bangsanya. Dimana menyebabkan ia bersifat toleran terhadap orang lain, suku-suku bangsa lain, agama-agama lain, dan buah-buah pikiran lain. Kekuatan pribadi demokratis sebanding dengan kekuatan lembaga-lembaga dan praktik demokratis dalam masyarakat tempat ia hidup.

  1. KEBEBASAN PERSEORANGAN DAN KEAMANAN NASIONAL

John Stuart Mill, on Liberty 1859 dalam karangannya bahwa suatu masa yang boleh dikatakan cukup beradab.  Meskipun Mill secara rendah hati tidak mengakui keorisinilan selai dari pada itu, bahwa yang diberikan setiap pikiran yang hati-hati terhadap caranya sendiri untuk menangkap dan menyatakan kebenaran-kebenarannya sebagai kepunyaan bersama.

Alexis de Tocqueville dalam bukunya Democrac in America 1835-1840 bahwa Mill menyerang angan-angan bahwa evolusi pemerintahan dari kelaliman ke demokasi dengan sendirinya akan memberi penyelesaian bagi perseolan kemerdekaan perorangan. “pemerintah yang lalim dapat dijalankan oleh satu orang, beberapa orang, atau oleh suatu mayoritas”. Pemerintah oleh kaum mayoritas secara potensial adalah yang paling jelek, karena mendapatkan sokongan moril paling luas. Mill juga melihat kecenderungan umum manusia untuk tidak bersabar dan berlapang hati, tetapi cenderung mendesakkan pendapatnya atas orang lain. Dan, ketiadaan kekuasaan acapkali merupakan sebab yang utama mengapa seseorang dapat menerima perbedaan paham. “andaikan seluruh umat manusia berkurang satu, mempunyai pendapat yang sama dan hanya satu orang yang bertentangan pendapat manusia tidak lebih berhak untuk membungkamkan orang yang satu itu. Seperti juga orang ini, andaikata mempunyai kekuasaan ia berhak untuk membungkam seluruh umat manusia”.  Mill juga mengatakan suatu masyarakat tidak akan sempurna bebas, kecuali jika ada jaminan kebebasan mutlak untuk menyatakan pendapat dilapangan pengetahuan, moral, politik, dan ketuhanan. Tidak ada seorangpun yang bisa menangkap lebih dari sekelumit atau sebagian saja dari kebenaran. Dalam proses yang senantiasa dihadapkan pada tantangan-tantangan, kebenaran dapat tumbuh dan sehat. Keharusan pendapat secara penuh terbagi tiga dasar yaitu:

  1. Pendapat yang dibungkam mungkin sepenuhnya mengandung kebenaran.
  2. Pendapat yang dibungkam mungkin sebagian benar dan sebagian tidak benar.
  3. Andaikata pendapat itu bungkam seluruhnya tidak benar, pendapat itu seharusnya jangan di tekan.

Mill juga menekan bahwa kebebasan individu untuk kepentingan mendirikan sebuah negara yang kuat, bahwa harga sebuah negara tidaklah lebih tinggi dari pada harga para warganya. Apabila negara “memperkecil” orang-orangnya dan menurunkan derajat mereka menjadi alat-alat yang patuh akan didapati kalau dengan orang-orang kecil tidak akan dapat dilaksanakan hal-hal yang besar dengan benar-benar.

  1. KAPITALISME KLASIK

Kapitalisme menurut sejarahnya berkembang sebagai satu bagian dari gerakan besar individualisme rasionalis. Dilapangan keagamaan, gerakan itu menghasilkan reformasi di bidang pendidikan, pertumbuhan ilmu pengetahuan alam dalam hubungan-hubungan manusia, ilmu pengetahuan sosial di bidang politik, pemerintahan yang demokratis dan dibidang ekonomi. Dalam sistem kapitalis, hak milik atas alat-alat produksi (tanah, pabrik-pabrik, mesin-mesin, sumber-sumber alam) ada di tangan orang perseorangan, tidak ditangan negara. Hal ini tidak menghalangi dipegangnya hak-hak monopoli biasa dan urusan departemen-departemen umum yang pokok oleh pemerintah (kantor pos, senjata-senjata atom). Tetapi hal seperti ini lebih dianggap sebagai pengecualian dari pada suatu ketentuan kecenderungan peradaban kapitalis lebih menyukai kepemilikan perseorangan alat-alat produksi didasarkan atas dua pertimbangan.

  1. Kepemilikan atas harta produktif berarti kekuasaan atas kehidupan orang lain.

Kekuasaan semacam ini dipecahkan antara banyak pemilik harta dari pada dipegang oleh satu pemilik yaitu negara. Ditambah dengan kekuasaan ekonomi dari pemilik segala harta produktif, hingga bergabunglah harga ekonomi dan kekuasaan politik.

  1. Cara berfikir kapitalis bahwa kemajuan dibidang teknologi akan lebih mudah dicapai apabila setiap orang mengurus urusannya sendiri dan mempunyai dorongan pribadi untuk berbuat demikian.

Di zaman pra-kapitalis, ekonomi pada dasarnya bersifat lokal dan mencukupi diri sendiri. Setiap keluarga menghasilkan hanya sekira-kira yang diperlukannya dan menambah kebutuhan-kebutuhannya yang mudah dengan jalan barter atau pertukaran barang dipasar setempat yang primitif. Dalam ekonomi totaliter (fasis atau komunis), negara dalam usahanya merencanakan seluruh perekonomian terbentur pada kesulitan yang ditimbulkan oleh terbatasnya luas pengawasan yang dapat dilakukan. Dalam sistem ekonomi pasar kapitalis, setiap pembuat keputusan memperhatikan daerah yang jauh lebih kecil. Dan luasnya jangkauan perhatian dan pengawasannya lebih terbatas dan bisa lebih diatur. Dalam sistem ekonomi pasar kapitalis, setiap pembuat keputusan memperhatikan daerah yang jauh lebih kecil. Dan luasnya jangkauan perhatian dan pengawasannya lebih terbatas dan bisa lebih diatur.

Ekonomi pasar adalah tulang punggung bagi semua sistem ekonomi. Ahli ekonomi sosialis akhirnya mengakui implikasi-implikasi politik luar biasa yang ditimbulkan oleh ekonomi pasar. W. Arthur Lewis, ia tidak setuju dengan konsep-konsep kuno. Persoalannya bahwa bukanlah diantara perencanaan dan tidak ada perencenaan, tetapi diantara perencenaan dengan bimbingan dan perencenaan dengan anjuran.

Dalam suatu negara yang demokrasi, pemerintah secara tidak langsung mendorong kegiatan-kegiatan ekonomi tertentu dengan jalan anggaran belanja, perpajakan, tingkat-tingkat bunga, dan politik-politik perencanaan lain yang bersifat dorongan. Cara yang seperti inilah menghindari kekurangan pokok dari perencanaan terpimpin sentralisasi yang biokratis dan tidak adanya efisiensi di bidang ekonomi. Tidak kurang pentingnya juga dalam menerima prinsip ekonomi pasar lewis terpaksa mengambil kesimpulan bahwa nasionalisme semua industri tidak diinginkan berhubungan dengan alasan-alasan yang biasa untuk menentang monopoli yang tidak adanya efesiensi, kekurangan inisiatif, dan pemusatan kekuasaan. Ciri lain dari ekonomi kapitalis adalah persaingan. Kebebasan untuk mengadakan persaingan di pasar berasal dari empat kebebasan kapitalis yang pokok. Yaiti kebebasan untuk berdagang dan mempunyai pekerjaan, kebebasan untuk mengadakan kontrak, kebebasan hak milik, dan kebebasan untuk membuat untung. Sedangkan pilihan lain dari persaingan adalah:

  1. Monopoli perseorangan
  2. Negara yang serba kuasa

Di bidang industri, penilitian dan pengembangan menjadi suatu lapangan untuk bersaing dengan gesit. Kegesitan persaingan terlihat pada kenyataan bahwa maskapai menggunakan jumlah yang semakin besar dari anggaran belanja untuk keperluan litbang. Dengan mempercepat masa perubahan di lapangan ekonomi, litbang meningkatkan persaingan. Hingga timbulah prinsip keuntungan dimana prinsip poko lain yang merupakan ciri dari sistem kapitalis. Ekonomi kapitalis memberikan lebih banyak kesempatan untuk mencari keuntungan dari sistem-sistem ekonomi sebelumnya. Karena adanya jaminan kebebasan yang biasanya tidak terdapat dalam sistem-sistem pra kapitalis yaitu:

  1. Kebebasan untuk berdagang dan mempunyai pekerjaan
  2. Kebebasan hak milik
  3. Kebebasan mengadakan kontrak

Perkembangan sistem keuntungan dibawah kapitalisme tidak perlu menunjukkan bahwa dengan memberikan kesempatan yang lebih besar untuk mencari keuntungan, kapitalisme menjadi lebih tidak bersusila.

  1. KETEGANGAN-KETEGANGAN DALAM KAPITALISME MODERN

Teori kapitalisme paling mendekati kenyataan yang sebenarnya dalam periode klasik, dari pertengahan abad ke-18 hingga akhir abad ke-19, pada abad ke-20, kapitalisme terpaksa menghadapi banyak ketegangan. Seperti perkembangan-perkembangan teknologi industri dan seperti peperangan lainnya. Hingga demokrasi menentapkan prinsip bahwa mereka yang mempunyai kekuasaan harus bertanggung jawab terhadap masyarakat. Dalam negara yang demokrasi, kekuasaan politik tidak boleh digunakan untuk keuntungan-keuntungan golongan yang memerintah. Sedang dalam alam ekonomi, sebaliknya terdapat suatu keadaan konstitusional yang berlawanan dengan konsep dasar demokrasi. Sementara dalam demokrasi kapitalisme, kebijakan-kebijakan politik diputuskan melalui proses-proses persetujuan yang mulai dari bawah dan berakhir di atas.

Semakin berhasil kapitalisme, semakin dihancurkannya pula suatu paradoks sifat kelembagaan dan ideologinya yang asli dengan jalan kolektivisasi dan sosialisasi rangka perusahaan. Kolektivis-kolektivis yang pertama dalam zaman kapitalisme bukanlah orang-orang yang mengkritiknya, tetapi pengusaha-pengusaha kapitalis yang paling berhasil seperti Andrew Carnegie, John D. Rockefeller, dan Henry Ford yang telah menciptakan kerajaan-kerajaan industri yang luas. Galbraith mengakui bahwa tenaga imbangan tidak selalu efektif sebagai alat untuk membatasi kekuasaan ekonomi perseorangan. Tidak juga dapat bekerja dalam keadaan inflasi, saat kekurangan permintaan secara relatif lenyap dan pembeli yang jumlahnya terlalu besar bersaing untuk membeli barang-barang dan jasa yang ada. Sedang keuntungan-keuntungan monopoli dapat dibagi dengan baik antara pembeli besar dan penjual besar serta kerugian konsumen. Dengan digantikannya kesatuan-kesatuan kecil yang bersaing, yang besar jumlahnya di abad ke-18, oleh kesatuan-kesatuan raksasa yang bersaing tetapi sedikit jumlahnya diabad ke-20. Oleh karena itu, dalam satu segi konsep tenaga imbangan meskipun jelas dan provokatif, pada intinya adalah pernyataan kembali dengan cara lain dokrin pasar yang mengatur diri sendiri. Doktrin ini berasal dari ilmu ekonomi klasik yang secara pinter sekali telah disesuaikan dengan fakta-fakta ekonomi modern.

  1. SUMBER-SUMBER KEKUATAN DEMOKRASI KAPITALIS

Kapitalisme telah menciptakan keajaiban-keajaiban dibandingkan keajaiban piramid-piramid Mesir, jalan-jalan air di Roma, dan gereja-gereja besar Gotik. Kapitalisme juga telah melakukan ekspedisi-ekspedisi yang jauh melebihi perpindaha bangsa-bangsa dan perjalanan-perjalanan untuk perang suci dimasa-masa yang lalu. Selayang pandang tentang Amerika Serikat: penduduknya bertambah enam kali lipat diantara tahun 1850 dan 1950. Tetapi penghasilan nasionalnya bertambah tiga puluh kali lipat (dalam mata uang dollar tetap untuk memberi kemungkinan perubahan dalam daya beli). Pada waktu yang bersamaan hak suara senantiasa diperluas, pendidikan dimungkinkan bagi lebih banyak orang dari pada waktu yang sudah-sudah dan kesempatan untuk bersenang-senang lebih banyak dari pada sebelumnya. Diats segala-galanya tidak pernah sebelumnya ditunjukkan perhatian yang sedemikian besarnya terhadap kesejahteraannya yang berkedudukan rendah dalam masyarakat.

Penghapusan perbudakan, pendidikan bagi semua orang, bantuan kesehatan yang belum pernah diberikan sebelumnya, jaminan sosial bagi setiap orang, perpanjangan usia dua kali lipat dalam waktu satu abad, pertambahan penduduk yang tertinggi menurut catatan. Dengan  memandang pada peabadatan-peradabatan pra-kapitalis, kita terkejut oleh kenyataan masih tetap adanya ketidaksamaan tingkat kedudukan sosial (sistem kasta di India, kelas peon di Amerika Latin) yang mencerminkan tidak adanya penghargaan sama sekali terhadap kemuliaan diri manusia. Kemajuan ilmu pengetahuan sosial di Amerika Serikat salah satu dari alat pengantar perubahan sosial sebagian besar telah didanai oleh yayasan-yayasan swasta. Karena ilmu pengetahuan sosial menggali fakta-fakta, mungkin sekali akan menyebabkan timbulnya perubahan-perubahan sosial yang justru paling ditakuti oleh kaum kolot.

Implikasi politik kapitalisme juga dapat dilihat dengan pengambilan risiko perseorangan, keinginan dan kesanggupan untuk membuat keputusan-keputusan, memikul tanggung jawab, dan menentukan kehidupan sendiri. Ekonomi kapitalisme berkembang sebelum ada pemerintahan yang demokratis, tetapi yang satu mau tidak mau harus menuju pada yang lain. Kapitalisme juga menyangkut pemerintahan dengan pembagian keputusan dan kekuasaan. Undang-undang ekonomi tidak ditetapkan oleh suatu kekuasaan pusat, melainkan oleh beribu-ribu keputusan kecil yang saling mengimbangi. Dalam pandangan yang luas dan meliputi seluruh dunia, peradaban kapitalis di wakili oleh Inggris pada abad ke-19 dan Amerika Serikat pada abad ke-20 dan merevolusikan benua yang terbelakang.

  1. KEADAAN MAKMUR

Prinsip utama bagi keadaan makmur boleh dikatakan sederhana.

  1. Pengakuan bahwa setiap anggota masyarakat berhak, semata-mata karena manusia untuk mendapatkan hidup yang minimum.
  2. Keadaan makmur membawa kewajiban kearah penuh (full employment) yang harus dijadikan tujuan utama bidang sosial dengan sokongan politik pemerintah.

Tahun 1929-1939 tidak hanya memperlihatkan kerusakan-kerusakan yang ditimbulkan oleh para pengangguran tapi juga kemerosotan nilai-nilai kemanusiaan. Dalam jaminan sosial, perlindungan terhadap bahaya yang mengancam berupa ketiadaan, ketakutan, dan hari tua tidak saja akan menunjukkan adanya pertimbangan-pertimbangan kemanusiaan. Di Amerika Serikat, depresi besar menyebabkan merosotnya kepercayaan terhadap falsafah kolot mengenai laissez-faire. Ketika perekonomian Amerika mencapai tingkat saat seorang dari empat orang yang lain dapat kehilangan pekerjaannya. Saat semakin banyaknya perusahaan  yang jatuh bangkrut atau tidak sanggup mengkaji pegawainya dan mencari keuntungan bagi pemegang-pemegang saham mereka. Agricultural Adjustment Act (12 Mei 1933) menolong kaum tani dengan jalan menaikkan harga hasil-hasil pertanian sedemikian rupa sehingga kaum tani dapat membeli barang-barang industri seperti pada tahun 1909-1914. Sementara di kebanyakan negara bantuan untuk para pengangguran diberikan dalam bentuk uang tunai sebagai “sokongan amal”. Pemerintah Federal mendirikan Works Progress Administration pada tahu 1935 untuk memberikan bantuan pekerjaan dan bukan sokongan amal berupa uang. National Labor Relations Act (5 Juli 1935) yang biasanya disebut dengan Wagner Act, menetapkan untuk pertama kalinya dan sepenuhnya peraturan peundang-undangan mengenai hubungan buruh majikan di Amerika Serikat. Seperti dengan membentuk serikat-serikat perusahaan, polisi pribadi, mata-mata buruh, penutupan-penutupan, dan pematah-pematah pemogokan profesional. Itulah salah satu cara para majikan mematahkan mereka.

Penyelenggaraan perekonomian Amerika telah menakjubkan dunia, mulai dalam perang dunia ke II dan di tahun-tahun sesudah perang. Perekonomian Amerika tidak menjadi lembek dan macet disebabkan oleh keadaan makmur, tetapi malah memperlihatkan dinamisme, dorongan, dan inisiatif yang luar biasa dalam periode 1940-1960. Sementara pada tingkat-tingkat permulaan, keadaan makmur adalah persoalan politik partisan yang menimbulkan suasana yang pahit di antara partai besar di Amerika. Tetapi dala, perkembangannya, pertentangan menjadi sangat sedikit sepanjang yang berkenaan dengan prinsip-prinsip pokok keadaan makmur. Apapun aspek-aspek ekonomi dan sosial dalam keadaan makmur, akibat-akibat politiknya lebih penting lagi. Dengan tidak merubah bentuk dasar pemerintahan atau cara hidup, keadaan makmur telah memperkuat demokrasi dengan jalan memperkuat jaminan-jaminan, perasaan harga diri, dan kemerdekaan warga negara demokrasi.

 

Leave a Reply

Fill in your details below or click an icon to log in:

WordPress.com Logo

You are commenting using your WordPress.com account. Log Out / Change )

Twitter picture

You are commenting using your Twitter account. Log Out / Change )

Facebook photo

You are commenting using your Facebook account. Log Out / Change )

Google+ photo

You are commenting using your Google+ account. Log Out / Change )

Connecting to %s